Link and Match Pendidikan dalam Menjawab Tantangan

Header Menu

Cari Berita

Link and Match Pendidikan dalam Menjawab Tantangan

Friday, June 7

Oleh Ulfatul Muslimah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Madura

Pengangguran selalu menjadi tema sentral dalam setiap perbincangan ekonomi suatu daerah. Meskipun secara nasional, angka pengangguran mengalami penurunan hingga menjadi satu digit, namun pemerintah dan seluruh elemen tidak boleh terlalu terlena. Pasalnya, peningkatan pengangguran dengan status berpendidikan semakin tinggi.

Hal ini memberikan sejumlah sinyal kurang baik. Garry Backer, seorang ahli ekonomi, mengatakan bahwa ada pengaruh signifikan antara pendidikan dengan peningkatan pendapatan. Artinya, seharusnya, dengan semakin tinggi pendidikan seseorang maka peluang orang tersebut untuk mendapatkan penghasilan semakin tinggi pula. 

Namun, realitas yang terjadi di negara Indonesia berbanding terbalik, data BPS menunjukkan bahwa pengangguran berstatus pendidikan tinggi semakin meningkat.

Oleh karena itu, sangat penting bagi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk meninjau kembali kurikulum yang dijalankan di lembaga pendidikan. 

Apakah ada kemungkinan tidak match antara kurikulum yang dijalankan dengan kebutuhan dunia kerja. Sebagaimana sangat sering diungkapkan di kalangan Islam, “Didiklah anak-anakmu karena mereka tidak akan hidup di zamanmu.” Perlu ada penyesuaian-penyesuaian dengan tuntutan zaman agar generasi mendatang tidak ketinggalan dan pengangguran dengan status pendidikan semakin meningkat.

Pamekasan, sebagai salah satu kabupaten di Madura, pun tidak dapat lepas dari realitas tersebut. Pemerintah beserta seluruh stakeholder pendidikan juga perlu segera melakukan instrospeksi. Predikat sebagai Kota Pendidikan yang dilekatkan pada Pamekasan oleh pemerintah tentu memiliki beban tersendiri. 

Salah satu bukti konkret implementasi Kota Pendidikan tentunya, salah satunya, adalah tingkat pengangguran dan pendapatan daerah. 

Berdasarkan data BPS Pamekasan, dari total jumlah penduduk 854.194 jiwa, baru sekitar 425.333 jiwa yang bekerja. Masih banyak penduduk Pamekasan yang belum bekerja, belum mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan, atau bekerja tapi pendapatannya belum seimbang dengan kebutuhannya. 

Hal ini dapat ditilik dari berbagai sudut pandang yang menjadi penyebab. 

Pertama, tidak match antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja di Pamekasan. Akibatnya, banyak sarjana di Pamekasan yang memilih menganggur karena kompetensi yang dimiliki tidak terakomodir oleh kebutuhan dunia kerja. 

Beberapa orang juga memilih bekerja meskipun pendapatannya tidak seimbang dengan kebutuhannya atau bekerja meskipun tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki. 

Kedua, kurikulum pendidikan yang cenderung pasif dan berjiwa pegawai. Walaupun sudah didengung-dengungkan sejak lama bahwa di Abad 21 ini, kompetensi yang paling dibutuhkan adalah kreativitas, namun tidak semua lembaga pendidikan mampu mengimplementasikan pemupukan kreativitas kepada peserta didik dalam kurikulumnya. 

Pemupukan kemampuan kreativitas bagi peserta didik masih kurang maksimal. Akibatnya, output dan outcome lembaga pendidikan tidak mampu mengurangi pengangguran. Lulusan dari lembaga pendidikan lebih banyak yang menjadi pencari lapangan kerja daripada pencipta lapangan kerja. 

Ketiga, lulusan yang tidak memiliki skill mumpuni. Dalam rangka mengikuti kebutuhan zaman, kualifikasi dunia kerja semakin tinggi. Hanya orang-orang yang memiliki skill mumpuni yang dapat diakomodir. 

Sementara mereka yang hanya berbekal ijazah tanpa skill, dengan sendirinya akan tersingkir. Dengan demikian, tingkat pendidikan seseorang secara formal tidak akan memberikan pengaruh signifikan tanpa didukung oleh skill yang sesuai kebutuhan dunia kerja.

Oleh karena itu, pemerintah dan stakeholder pendidikan perlu melakukan langkah-langkah bijak untuk mengantisipasi semakin meningkatnya jumlah pengangguran di Pamekasan. Alih-alih Pamekasan hanya berpredikat sebagai Kota Pendidikan, namun tidak berdampak signifikan terhadap tingkat pengangguran. 

Selain peningkatan jumlah pembukaan lapangan kerja, kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja juga perlu dipertimbangkan. Hal ini dapat dimulai dari proses peserta didik memilih jurusan. 

Di negara-negara maju, sebelum peserta didik memilih jurusan tertentu, mereka melakukan tes psikologi terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk melihat potensi, minat, dan bakat yang dimiliki calon peserta didik. 

Kesesuaian antara potensi, minat, dan bakat yang dimiliki dengan jurusan yang dipilih akan memberikan outcome pendidikan yang lebih optimal. 

Peserta didik akan lebih menikmati dan maksimal menjalani proses pendidikan.

Untuk di Indonesia, tes potensi akademik (TPA) atau tes IQ tampaknya perlu lebih dimaksimalkan. Semua calon peserta didik untuk sekolah menengah atas atau perguruan tinggi perlu melakukan tes ini terlebih dahulu. 

Pemilihan jurusan di lembaga pendidikan jangan sampai asal-asalan, apalagi sekadar untuk memenuhi kursi kosong. Pemilihan jurusan harus disertai dengan potensi, minat, dan bakat yang dimiliki. Pemilihan jurusan juga jangan sampai hanya didasarkan pada prospek lowongan pekerjaan tanpa mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki. 

Peningkatan kualitas pendidik, guru dan dosen, juga perlu terus dilakukan. Pendidik memiliki peran sentral dalam dunia pendidikan. Tanpa adanya peningkatan kualitas pendidik, proses pendidikan akan berjalan stagnan dari tahun ke tahun.

Padahal, lembaga pendidikan seharusnya menjadi pusat inovasi dan kreasi. Masa depan suatu daerah sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan daerah tersebut. 

Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, pernah mengatakan, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.

Selain itu, komunikasi dan sinergi yang baik antara lembaga pendidikan dengan penyedia lapangan kerja juga sangat penting untuk terus dibangun. Hal ini agar lembaga pendidikan tidak rabun terhadap kebutuhan dan prospek masa depan. 

Meskipun bukan berarti lembaga pendidikan hanya bertindak sebagai penghasil tenaga kerja. Lembaga pendidikan tetap harus menjaga independensinya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. 

Tapi, juga bukan berarti harus lepas dari tuntutan realitas dunia. Link and match antara pendidikan dengan dunia kerja tetap perlu dibangun dengan baik demi mewujudkan Pamekasan yang hebat.