SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN LEBIH BAIK DARI FDS (full day school)

Header Menu

Cari Berita

SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN LEBIH BAIK DARI FDS (full day school)

Friday, June 7


Jatimaktual.com, Opini,- Lahirnya undang-undang pemerintah NO 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional merupakan awal sistem pendidikan indonesia. Berbagai rencana matang telah dijalankan, mulai dari sistem pembelajaran, penyusunan kurikulum dan lain sebagainya.


Hal ini dilakukan karena pendidikan yang selama ini diterapkan, dianggap gagal membawa indonesia kearah yang lebih baik, lebih-lebih masih dianggap gagal dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Negara kita.

Lahirnya sebuah inofasi-inofasi baru dari badan kementrian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) ialah ingin membawa perubahan kearah yang baik didunia pendidikan, namun, pada kenyataannya inofasi-inofasi tersebut sangat terbilang mengecewakan. 

Terbukti, contoh kecilnya kurikulum 2013 atau yang lebih dikenal denagn sebutan K13 yang belum berjalan maksimal, hal ini menandakan bahwa inofasi-inofasi yang lahir dari kemendikbud selalu menemui jalan buntu. Disamping itu, kualitas output dalam pendidikan kita masih perlu dipertanyakan.

Hakikatnya kehadiran manusia cerdas dalam masyarakat adalah bagaimana mencari solusi atas persoalan pelik yang menimpa masyarakat, jika memang tujuan pendidikan ingin mencerdaskan output yang peka sosial, lalu mengapa masih banyak sebagainya kualitas output. Pendidikan kita yang tidak punya intelektual tinggi, bahkan terjerumuskedalam perbuatan anarkis.

Kendatipun kegagalan terus menghantui dunia pendidikan, namun pemerintah terus melahirkan inofasi-inofasi baru. Akhir-akhir ini, inofasi-inofasi baru kembali hadir ditubuh pendidikan kita, yaitu sistem full days school (FDS). 

Lalu, apa sistem full days school  itu ?
Full days scool merupakan kegiatan belajar mengajar penuh, dari pagi hari hingga sore hari. 

Anak didik dituntut untuk mengikuti KBM seharian penuh. Hal ini merupakn sistem kegiatan belajar yang pertama di Indonesia jika full days school itu direalisasikan.

Sebenarnya sistem full days school ini sudah diterapkan diberbagai negaran maju dipenjuru dunia seperti Singapur, Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok. Tak ayal jika kualitas SDM dinegara tersebut bisa dikatakan maksimal. 

Mungkin tujuan mentri pendidikan ialah ingin menerapkan full days school adalah ungtuk mengembangkan kualitas SDM di negara kita. 

Tak dapat dipungkiri indonesia mengaca pada negara-negara maju yang menerapakn sistem pendidikan full days school.

Namun, apakah full days school ini layak diterapkan dinegara indonesia “sebenarnya, jika pemerintah masih tetap ingin menerapkan sistem full days school ini maka perlu bahkan berfikir ulang kembali. 

Disisi lain jika ditinjau ari rasa kepedulian sosial anak didik, bisa saja rasa kepedulian mereka terhadap orang tua, lama-kelamaan akan harus seimbangkan.

Full days school memang telah diterapkan dinegara maju. Akan tetapi, jika indonesia masih ngotot ingin menerapkan full days school ini harus meliaht dari sisi keagamaan. 

Yang  mana penduduk indonesia mayoritas beragama islam. Full days school seakan mengurangi ibadah mereka karena seharian penuh berada di sekolah dari pagi hari hingga sore hari. Bagi umat islam harus melaksanakan sholat dhuhur dan ashar bukan malah diisi dengan metode-metode pendidikan penuh. Akan tetapi, dari segi ibadah mereka harus seimbang pula.

Padahal ada sistem yang penuh melebihi dari sistem yang akan diterapkan tersebut yaitu “All day” yang hanya diterapkan diruang lingkup pesantren. Namun para santri kurang memaksimalkannya. 

Maka dari itu, sebaiknya pemerintah tidak memandang sebelah mata terhadap dunia pesantren, dan hanya perlu mengembangkan dan memaksimalkan kemampuan mereka. Pendidikan yang diajarkan dipesantren bukan hanya memperkaya intelektual seseorang akan tetapi outputnya pun siap mengandalkan moralitasnya nanti.

Dari dulu hingga sekarang sistem yang ada dipesantren bahkan malebihi sistem tersebut. Jikaditinjau dari segi kegiatan belajar mengajar dipesantren telah menerapkan sistem yang padat, mulai dari aktivitas moral keagamaan yang dilasanakan dari pukul 05:30-23:00, hingga kegiatan yang lain. Hal ini menandakan bahwa sejak inovasi itu lahir telah lama pesantren sudah menerapkan kegiatan belajar mengajar penuh.

Pesantren bukan hanya sebagai sarana pengembaraan intelektual seseorang akan tetapi sebagai penguatan pendidikan moral, model pendidikan inilah yang sebenarnya memiliki power dari terciptanya kualitas output pesantren yang diharapkan oleh banyak kalangan. Sehingga pendidikan yang ada dipesantren bukan hanya berbasis diri sendiri tetapi juga berbasis sistem pendidikan masyarakat.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua diindonesia dari dulu selalu mengajarkan prinsip “sistem salafi” baik pada pesantren modern maupun salaf. 

Sehingga didalamnya penuh akan nuansa keagamaan dan sering kali ada kegiatan praktek ubudiah, seperti manasik haji, praktek shalat dan sebagainya, bahkan jiak dipesantren modern pun telah diajarkan pengatehuan umum, sehingga kehidupan mereka dalam mengenyam pendidikan pun seimbang, juag dipesantren modern telah diajarkan kegiatan ekstra kurikuler, seperti olahraga, organisasi dll. Ketika sudah demikian outputmua juga siap berkompetisi dimanapun.

Pesantren saat ini jauh berbada denagn tempat perkumpulan para pelajar nonpesantren. Disana telah diajarkan berbagai ilmu pengetahuan yang bahkan dikatakan sama dengan sistem pendidikan luar pesantren, hal ini yang kemudian kualitas output pesantren selalu jadi pemenang didalam lomba manapun, bahkan hal ini nterbukti dengan mendominasinya peran pesantren dalam kehidupan masyarakat, mulai dari juru tahlil hingga pejabat pemerintah. Kesuksesan ini tidak luput dari sistem pendidikan pesantren yang berbasis kebutuhan masyarakat. Berbeda dengan sistem pemerintah yang lebih bersifat mengedepankan sistem pendidikan barat (impor).

Melebihi dari itu semua dipesantren juga mengajarkan tentang hidup kebersamaan dalan kesederhanaan, kesederhanaan inilah yang kemudian mengajarkan kesabaran, hal tersebut bukan hanya menguji intelektual seseorang, akan tetapi mereka diberi kesempatan untuk melatih mental. Hal ini yang kemudian menjadi sebuah ciri khas kualitas output pesantren.

Mungkin dari sekelumit pemaparan yang telah penulis paparkan diatas perlu kiranya adanya sebuah solusi. Solusi yang Pertama pemerintah dalam membangun sistem pendidikan harusnya memperhatikan karakter bangsa indonesia secara khusus pendidikan pesantren, agar sestem pendidikan yang diterapkan nantinya ada nilai-nilai moral. 

Kedua, pemerintah mau belajar pada kegagalan. Artinya, sistem pendidikan yang telah gagal membawa perubahan sebaiknya tidak dipaksakan. Disamping itu, pemerintah lebih mengedepankan kualitas sistem pendidikan pesantren, dari pada sistem FDS yang merupakan sistem pendidikan impor.

Dengan demikian semoga kedepan pendidikan pesantren tidak hanya dipandang sebelah mata oleh kalangan manapun.

Faizatul Hamimah
Mahasiswi Semester VI 
Prodi PBA IAIN Madura.