Penuhi Kebutuhan Amunisi TNI dan Polri, Pindad Bakal Gandeng Korsel dan Kanada

Header Menu

Cari Berita

Penuhi Kebutuhan Amunisi TNI dan Polri, Pindad Bakal Gandeng Korsel dan Kanada

Thursday, September 5

Jatimaktual.com - PT Pindad (Persero) bakal menggandeng investor dari Korea Selatan (Korsel) dan Kanada.

Strategi tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan amunisi untuk TNI dan Polri.

Maklum saja, saban tahun kebutuhan amunisi bagi prajurit TNI dan Polri mencapai 400 juta butir.

Nah, dengan menggandeng investor asing, Pindad memproyeksikan akan memiliki kapasitas produksi amunisi hingga 400 juta butir per tahun pada tahun 2023 mendatang.

Saat ini, rencana tersebut sudah memasuki tahapan pengkajian teknis untuk pemilihan teknologi.

Hal ini kemudian berlanjut dengan tahapan penyusunan feasibility studies untuk memenuhi proses perizinan yang dibutuhkan.

Harapannya, proyek itu bergulir pada semester kedua tahun depan.

Di sisi lain, Pindad tengah mengebut pengerjaan fasilitas produksi amunisi kaliber yang berlokasi di Malang.

Saat ini progres pembangunan pabrik sudah mencapai 70% dan ditargetkan bisa beroperasi pada Desember 2019. .

Kelak, jika pabrik itu beroperasi, produksi amunisi kaliber Pindad akan bertambah, dari sebelumnya hanya 120 juta butir per tahun menjadi 240 juta butir per tahun.

Untuk mempercepat penyelesaian pabrik itu, sekarang Pindad tengah mempersiapkan mesin produksi tambahan.

"Kami menunggu beberapa mesin masuk, kalau November sudah masuk semua, Desember sudah bisa peresmian pabrik," ujar Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose kepada Kontan, Senin (2/9).

Asal tahu, penambahan fasilitas produksi tersebut menelan investasi sebesar Rp 400 miliar. Adapun dananya bersumber dari penyertaan modal negara (PMN).

Oh ya, di sisi keuangan, kinerja Pindad tercatat cukup positif.

Hingga semester I-2019, Pindad sudah mengantongi perolehan kontrak Rp 4 triliun atau sudah mencapai 49,38% dari target kontrak sebesar Rp 8,1 triliun di akhir 2019.

Perinciannya, kontrak senilai Rp 2,7 triliun untuk alat-alat persenjataan yang digunakan keperluan pertahanan dan keamanan (hankam).

Lalu ada catatan kontrak senilai Rp 1,3 triliun untuk alat-alat berat yang digunakan bagi keperluan industrial business.

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩✍⚖✍🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩